SEJARAH KELURAHAN PEMECUTAN

Peribahasa mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui sejarahnya serta dapat menghormati jasa para pahlawan atau pendahulunya. Dengan demikian mengandung pengertian bahwa kepada generasi penerus diharapkan untuk mengenal atau minimal mengetahui tentang asal-usul Bangsa dan Negerinya. Demikian pula halnya dengan sejarah Kelurahan Pemecutan. Ada beberapa informasi yang bisa dijadikan pedoman menurut cerita dari tokoh-tokoh masyarakat serta didukung oleh bukti-bukti peninggalan yang diketemukan dan dipakai sebagai acuan terutama menyangkut sejarah terbentuknya Kelurahan Pemecutan. Adapun sejarah dari nama Kelurahan Pemecutan tidak dapat dilepaskan dari pada menelusuri sejarah dari nama Desa Pemecutan, sebab Kelurahan Pemecutan dahulu adalah bagian dari Desa Pemecutan yang membentang dari Meregaya sampai Ubung. Sedangkan Desa Pemecutan dahulu adalah bagian dari kabupaten Badung. Kabupaten Badung di Pecah lagi menjadi dua, yaitu Kabupaten Badung dan Kodya Denpasar seperti yang kita lihat sekarang. Menelusuri sejarah sesuatu, kita tidak dapat menghindarkan diri dari kita harus menelusuri peristiwa-peristiwa pada masa yang lampau. Sehubungan dengan itu, menelusuri nama sebuah Desa Pemecutanpun kita harus memperhatikan kembali peristiwa-peristiwa dimasa lampau yang ada hubungannya. Pada umumnya penduduk asli Denpasar, terutama pengelingsir yang ada perhatian kepada sejarah Badung, mengetahui bahwa daerah Kabupaten Badung dan daerah Kotamadya Denpasar sekarang adalah bekas kerajaan Badung pada jaman dahulu pada jaman Kerajaan Bali. Karena itu menelusuri sejarah nama desa Pemecutan, tak dapat tidak kita harus menelusuri sejarah Kerajaan Badung yang mempunyai kaitan erat secara historis dengan Puri Pemecutan, sehingga dalam hubungan ini pengungkapan sejarah Puri Pemecutan tidak dapat dihindarkan sebab Puri Pemecutan ada di sentrum Desa Pemecutan/Kelurahan Pemecutan. Agar terhindar dari kesan seakan-akan membangkit-bangkitkan kembali feodalisme kepadakitaharapkan dapat melihat dalam konteksnya dengan usaha penemuan asal usul nama Desa Pemecutan maka pengungkapan sejarah Puri Pemecutan hanya diambil sebagian kecil, bagian yang mengacu pada asal usul nama Desa Pemecutan. Dari hasil kajian pustaka dari sumber-sumber tradisional berupa lontar-lontar babad yang ada dikalanganpengelingsir Puri Pemecutan, dari sumber-sumber tulisan sarjana barat dan sumber lainnya yang ada di Museum Bali di Denpasar, di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Propinsi Dati I di Denpasar dan dilengkapi dengan sumber monumentalis yang ada seperti Pura Tambang Badung, kita mencoba menemukan asal usul nama "Pemecutan" yang kemudian menjadi nama Desa, yaitu Desa Pemecutan. Disebutkan bahwa raja-raja Tabanan dan Badung adalah keturunan ARYA DAMAR yang datang dari Majapahit ke Bali pada tahun 1343 bersama Mahapatih Gajah Mada seperti yang diungkapkan oleh P.L. Van BloemanWaanders dalam tulisannya pada tahun1868. Salah satu keturunan Arya Damar di TabananAryaNatorWandira disebutkan juga AryaNotor Waringin berputra banyak. Seorang diantaranya bernama NararyaWangun Graha yang menjadi raja Tabanan. NararyaWangun Graha inilah yang menurunkan raja-raja di Tabanan dan Badung. Salah seorang dari 4 orang putra NeraryaWangun Graha yang ditempatkan di Badung bernama NararyaBandhana. Salah satu dari cucu-cucu NararyaBandhana yang di Badung adalah AryaBebed, gemar melakukan yoga semedi, melakukan "Dewa Sraya" ketempat-tempat suci untuk memohon berkah dan kejayaan. Seorang pengiring beliau yang sangat setia bernama Ki Andhagala dari keturunan tambyak selalu mendampingi beliau. Saat melakukan yoga semedi di puncak gunung Batur, semedinya berhasil setelah mendapat ujian berat dari Ida Batari Danu. AryaBebed memperoleh anugrah PECUT dan TULUP, dan memperoleh kewibawaan diselatan didaerah tampaknya "Badeng". Suatu kenyataan dalam sejarah, bahwa AryaBebed memperoleh kewibawaan dan menjadi "Badung", yang kemudian berkembang menjadi kerajaan Badung yang luas. Pada saat AryaBebed belum berkuasa, di Badung telah ada pusat-pusat kekuasaan yaitu di Tegal, di Gelogor dan Peken Badung, paling akhir muncul Pemecutan setelah AryaBebed berkuasa. Hal ini diungkapkan oleh P.L. Van BloemenWaanders di dalam tulisannya; ia adalah seorang kontrolir Belanda pertama di Buleleng pada tahun 1855. Dari keempat kekuasaan itu, Pemecutan paling menonjol dan dapat menguasai Tegal, Gelogor, dan Peken Badung , sehingga Pemecutan sendirilah yang muncul sebagai pemegang kekuasaan. Dari keraton Pemecutan itulah kemudian menurunkan raja-raja dikerajaan Badung. Dari uraian P.L.VanBloemenWaanders yang ditulisnya pada tahun 1868 kita banyak memperoleh informasi tentang Pemecutan, demikian juga tentang cucu AryaBebed, yang bergelar KyayiAnglurahPemecutan (III), mendapatkan gelar atau sebutan "Sakti" karena memiliki keris pusaka yang bernama SINGA PARAGA. Kita kembali kepada uraian tentang AryaBebed. Masa hidup AryaBebed ialah pada jaman Gelgel, pada masa pemerintahan DalemSagening (tahun 1580-1605) dan pada masa pemerintahan Dalem Di Made (tahun 1605-1686 ), putra DalemSagening. Dalam hubungan kekerabatan dengan DalemGelgel, Dalem Di Made adalah menantu dari AryaBebed, sehingga pada tahun 1638, AryaBebed ikut menumpas pembrontak ke I PatihAgung I Gusti Agung Maruti terhadap Dalem Di Made. Atas Jasanya itu AryaBebed diberi gelar Kyayi Gede RakaJambe Pule atau KyayiAnglurahJambe Pule. Setelah AryaBebed menjadi raja Badung, beliau membangun sebuah puri (disebelah barat jalan Thamrinsamapai ke Pemedilan sekarang) yang beliau beri nama Puri Pemecutan dan beliau bergelar KyayiAnglurahPemecutan (I). Nama Pemecuton diambil dari nama kata "PECUT" yang merupakan anugrah dari Ida Batara di Batur. Selanjutnya perlu dikemukakan bahwa AryaBebed mempunyai 3 Orang istri. Istri pertama ialah Kara Pucangan, anak dari KyayiAryaPucangan, melahirkan 2 orang anak, putra dan putri. Yang putra bernama KyayiAnglurahJambeMerik dibuatkan istana di Alang Badung (di Suci sekarang) dan beliaulah CIKAL BAKAL seluruh ARYA JERO KUTA. Yang putri diperistri oleh Dalem Di Made di Gelgel yang melahirkan DalemKetutJambe atau I Dewa Agung Jambe yang memindahkan pusat pemerintahan dari Gelgel ke Semarapura atau Semarajaya (Klungkung). Beliau memerintah pada tahun 1710 - 1775 masehi. Istri kedua dari Tumbak Bayuh bernama Jero Kame atau Jero Tameng yang melahirkan KyayiAnglurahGelogor. Beliau dibuatkan istana di Glogor dan beliaulah yang menjadi cikal bakal seluruh Arya di Glogor. Istri ketiga adalah puteri dari Wangsa Penataran di Pemedilan, yang melahirkan seorang putera bernama KyayiAnglurah bergelar Kayi Macan Gading. Beliaulah yang mewarisi Puri Pemecutan. Karena itu beliau bergelar KyayiAnglurahPemecutan (II). Dalam pemberontakan ke II dari I Gusti Agung Maruti kepada Dalem Di Made, Kyayi Macan gadingikut menumpas pembrontak itu pada tahun 1686 di Cedok Andoga, Watu Klotok dan beliau wafat, karenanya beliau juga di Juluki Batara Mur Ring Klotok. Kyayi Macan Gading mempunyai tiga orang putra laki dan seorang putri. Putra laki-laki tertualah yang mewarisi Puri Pemecutan dan dinobatkan sebagai Raja Badung dengan gelar KyayiAnglurahPemecutan (III). Beliau lebih terkenal dengan gelar KyayiAnglurah Sakti Pemecutan sebagaimana diungkapkan oleh P. L. Van BloemenWaaders. Beliaulah yang memperluas wilayah kerajaan, sehingga kerajaan Badung disegani di Bali dan meningkatkan kewibawaan Puri Pemecutan. Ikatan Kekerabatan diperkuat dengan dibangunnyapelinggih-pelinggihPibon 18 buah, 16 buah didalam Pura Tambang Badung dan 2 buah diluar ikatan kekerabatan dan kewargaan diperkuat dengan pemeliharaan dan pembinaan pengemong Pura Prasanak Tambang Badung yang ternyata jumlahnya cukup banyak (45 buah). Beliau banyak mempunyai putera yang berdiam disekitar Puri Pemecutan bersama warga-warga yang terkait dengan Puri Pemecutan, yang kemudian mewujudkan suatu ikatan kekeluaragaan yang akrab seperti dapat kita saksikan sekarang yang menyungsung Pura Tambang Badung, yang merupakan ikatan kewargaan yang bersifat historis religius. Berdasarkan kenyataan seperti tersebut diatas, maka pada saat pembentukan keprebekelan dahulu di wilayah disekitar Puri Pemecutan, wilayah Keprebekelan itu, yang mempunyai ikatan historis dengan Puri Pemecutan, dinamakan KeprebekelanPemecutan, yang kemudian diubah namanya menjadi Desa Pemecutan. Desa Pemecutan yang diwilayahi oleh 1 (satu) desa Adat Denpasar, yang meliputi Desa DanginPuri,DesaDauh Puri dan Desa Pemecutan. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali No 57 Tahun 1982 tertanggal 1 Juni 1982 Desa Pemecutan di mekarkan menjadi Kelurahan Pemecutan, Desa PemecutanKaja, Desa PemecutanKlod. Pada tahun 1989 Kelurahan Pemecutan di mekarkan lagi menjadi Kelurahan Pemecutan, Desa Tegal Harum, Desa Tegal Kerta. Dengan surat keputusan tersebut diatas lahirlah Kelurahan Pemecutan, Denpasar Barat.

Ida Bagus Agung Upawana Manuaba,S.E.

Apakah Informasi yang tersaji pada Website Kelurahan Pemecutan Denpasar Barat, bermanfaat bagi Anda?